review oleh rosepr1ncess
Tak pernah terpikirkan bagi saya bahwa cerpen dan prosa bisa berdampingan dan saling melengkapi satu sama lain dengan begitu indahnya seperti dalam buku Aku Berkicau. Ketika menyusun buku LUKA saya sempat ingin mengkolaborasikan antara puisi dan cerpen, tapi niat itu urung karena tak ada satupun puisi saya yang berkaitan dengan cerpen-cerpen saya, sehingga saya berpikir untuk memisahkan keduanya menjadi kumpulan cerpen dan kumpulan puisi, dalam dua buku yang berbeda. Nuzula Fildzah atau yang biasa kita kenal dengan Zulazula berhasil “mengawinkan” prosa dan cerpen, menjadi satu kesatuan yang bisa dinikmati secara terpisah maupun berdampingan.
Buku Aku Berkicau terdiri dari 8 cerpen dengan masing-masing memiliki prosa sebagai pembukanya – atau pengantar – atau mungkin Zulazula punya istilah sendiri? Tema yang diangkat dalam masing-masing cerpennya beragam, yang tentu saja tak lepas dari benang merah Cinta, baik antar sepasang kekasih, antara ayah dan sang anak, bahkan ada kisah tentang buku diary yang menyayangi si empunya dan taman bunga yang juga berkeluh kesah tentang minimnya perhatian keluarga yang hidup bersamanya. Zulazula benar-benar berkicau dalam bukunya, tapi memang kicauannya lebih vokal terasa dalam prosanya. Seperti seolah-seolah sedang memberi petuah kepada pembaca, sedangkan cerpennya, murni kicauan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya.