Tampilkan postingan dengan label Emiralda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emiralda. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 November 2010

Yang Tersisa Dari Setahun Itu : Catatan Mengagumkan Dari Seseorang yang Mengaku Tak Bisa Menulis

 review oleh rosepr1ncess


Saya sering sekali membaca pengakuan mba Emi di twitter, bahwa ia tak bisa menulis, apalagi menulis Fiksi. Bahkan di dalam buku perdananya pun, mba Emi mengulang-ulang pernyataan yang menyatakan bahwa dirinya tak pandai menulis. Pada kenyataannya, buku pedananya “Yang Tersisa Dari Setahun Itu” menggoreskan kisah-kisah yang mengalir halus dan tertata rapi. Tak perlu berbicara jam terbang menulis disini, karena tulisan mba Emi sudah berkata dengan sendirinya, bahwa ia, sang penulis, bisa menulis, dengan gaya bertuturnya sendiri, tanpa butuh jam terbang tinggi sebagai seorang penulis.


Dalam dunia jurnalistik, tulisan mba Emi bisa dimasukkan dalam kategori Feature. Contoh Feature yang paling nyata dalam dunia jurnalistik televisi adalah program “Jejak Petualang”. Pihak stasiun televisi tersebut mungkin menang di video-video yang menyajikan pemandangan alam yang dijelajahi oleh host, tapi mba Emi bisa menang di penyusunan kata-kata. Bahkan tanpa foto pun, pembaca buku ini akan bisa membayangkan seperti apa kehidupan yang dijalani mba Emi di luar negeri.

Selasa, 09 November 2010

Untaian Kisah Para Perangkai Kisah

Review Oleh Emiralda Noviarti


Akhirnyaa.. saya menyerah berulang-ulang membaca enam draft naskah dari bb - iya, sumpaahh, pusing, apalagi karena harus scroll page by page untuk review, akhirnya saya memutuskan untuk mencetak saja seluruh draft naskah itu. Memang masih tertinggal satu naskah lagi milik @SiGadisPemimpi, tapi hutang menulis ini jelas harus segera dicicil :)

So here I am on my way home, with a bundle of almost-one-hundred-pages of drafts (kebetulan saya cetak 4 pages in 1, bolak-balik). This is gonna be a real challenge, karena saya yakin menulis review untuk teman-teman baru ini akan jauh lebih sulit dibanding menulis review untuk buku Nindee, Nenden dan Wulan (well, Wulan kekecualian, karena tulisan di buku itu bukan tulisan Wulan, sehingga agak sulit untuk saya menuliskan review - hasilnya lebih mirip testimonial Friendster, haha..)

Hmm, mulai dari mana, yaa..

Sebelum mulai menulis review, saya harus bilang terus terang, bahwa saya sungguh 'iri' pada keenam teman-teman baru saya ini. Mereka piawai membebaskan imajinasi, lincah merangkai kata dan kalimat menjadi kisah. Saya tidak habis pikir, keenamnya jauh lebih muda daripada saya (jauuhh, bayangkan, beda umurnya bisa dua digit tahun, hihihi..) tapi kemahiran berbahasa sekaligus jam terbang menulis mereka luar biasa. Saya langsung merasa minder dan tak layak ikut-ikutan mengaku sebagai penulis :) Apalagi mengingat bahwa saya sama sekali nggak bisa menulis fiksi - daya imajinasi saya sungguh terbatas, mungkin karena sudah terlalu lama di'paksa' berpikir fact-based, structured, dan solution oriented (haduhh, apa sih ini, hihihi..)

Zula dan Vira rajin menulis di Twitter untuk @puisikita, @fiksimini dan @cerfet (cerita estafet) - tantangan yang sampai kini masih belum kesampaian saya jalani - masih nggak pede :) Tenni, Dyta, Zula, Vira dan Hilda masing-masing pernah (atau masih) menjadi reporter atau penulis, baik untuk media cetak ataupun e-magazine, dan rajin berkontribusi untuk komunitas penulis. Baru-baru ini, Tenni, Hilda dan Dyta masuk list kontestan penulisan cerita untuk Gagas Media. Keenamnya rajin menulis, baik di blog ataupun di facebook.

Hanya Tenni yang memang sarjana komunikasi - background yang cukup dekat dengan tulis-menulis. Sisanya bervariasi, mulai dari mahasiswi ekonomi, calon dokter gigi, bahkan calon sarjana kependidikan dan fisika murni (glek - Ichaa, saya juga dulu lumayan suka fisika, tapi tak sanggup rasanya membayangkan belajar khusus fisika empat tahun, hihihi..)

Untunglah waktu saya nekat ikutan 99 writers nulisbuku.com, saya nggak tahu kalau sebagian besar yang ikutan adalah penulis 'serius' dengan jam terbang yang lumayan, sehingga saya nggak sampai mengurungkan niat nekat saya untuk ikutan. Untung juga saya punya tiga partner-in-crime yang menemani berkejar-kejaran dengan deadline - sehingga akhirnya saya kesampaian juga punya buku dengan nama saya di covernya - selain Tugas Akhir S1 :))

Oke, pengantarnya cukup. Mari kita mulai cerita tentang bukunya. Mulai dengan dua buku pertama - 'Warna Dari Pelangi' (Karina Sacharissa - Icha) dan 'Relationship' (Adyta Purbaya - Dyta). Keduanya novel (dengan panjang lebih dari 100 halaman untuk sebuah cerita, yang saya tak terbayangkan bagaimana cara menuliskannya) bergenre teenlit, biasalah, nggak jauh-jauh dari soal cinta :) Saya memang nggak banyak baca buku teenlit ketika remaja. Waktu itu bacaan saya rasanya kelewat serius, lalu saya sepertinya malah mengalami penurunan kualitas bacaan sejalan dengan bertambahnya umur hingga sekarang ini, hihihi..


Minggu, 24 Oktober 2010

Tentang "yang Tersisa Dari Setahun Itu" - Emiralda

 Review ditulis oleh Adyta Purbaya

Mbak emiralda itu temen pertama di #99 writers yang saya kenal..

berawal dari notes nya tentang 99 writers ini 9 days di fesbuk yang di share link nya di twitter oleh Mbak Ollie. Saya yang jauh dari Palembang merasa khawatir akan sendirian dan nggak ada temen ngobrol ketika acara launching, memberanikan diri mengirim mesej ke fesbuk Mbak emi untuk bilang “Nanti pas disana kita bareng ya?” HAHA..

Mbak emi membalas mesej fesbuk itu dengan kalimat yang sangat bersahabat. Dan memang saat acara launching, saya bertemu dengannya. Sosok –yang menurut pandangan pertama saya- periang, bawel, dan supel. Mbak Emi dengan senyum lebar nya membuat saya merasa tidak sendiri ada disana :D

Beberapa waktu yang lalu, mbak emi sempat dua kali mengirimkan draft buku nya ke email saya, tapi selalu yang nyampe hanya email kosong. Finally, kemarin sore, akhirnya draft buku itu sampe dengan selamat dan utuh ke inbox saya :D (Rasanya pingin baca saat itu juga, tapi mesti jemput adek sekolah)

Yang tersisa dari setahun itu----

Ketika membaca tulisan di awal, ternyata saya dan Mbak emi memiliki beberapa kesamaan, hihi

perrtama : sama-sama suka baca segala hal apa saja kecuali komik. Karena (kalau saya pribadi) nggak mengerti gimana cara membaca komik itu. Makanya saya suka heran sama orang-orang yang bisa dengan asyik nya menikmati membaca komik, sementara saya harus setengah mati dan masih tetap tidak bisa memahami bagaimana alur cerita dari buku bernama komik :D

kedua :

Kutipan ini adalah hal yang sama seperti yang saya rasakan :
“Ibu saya sampai sempat melarang saya untuk membeli buku, dengan alasan sudah tidak cukup lagi tempat untuk buku-buku saya. Adik saya misuh-misuh karena banyak buku bertebaran di kamar. Saya gak berani masuk ke toko buku kalau sedang harus berhemat – cause I know I'll fail, saya hampir tidak mungkin keluar dengan tangan kosong.”