Tampilkan postingan dengan label Yang Tersisa Dari Setahun Itu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yang Tersisa Dari Setahun Itu. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 November 2010

Yang Tersisa Dari Setahun Itu : Catatan Mengagumkan Dari Seseorang yang Mengaku Tak Bisa Menulis

 review oleh rosepr1ncess


Saya sering sekali membaca pengakuan mba Emi di twitter, bahwa ia tak bisa menulis, apalagi menulis Fiksi. Bahkan di dalam buku perdananya pun, mba Emi mengulang-ulang pernyataan yang menyatakan bahwa dirinya tak pandai menulis. Pada kenyataannya, buku pedananya “Yang Tersisa Dari Setahun Itu” menggoreskan kisah-kisah yang mengalir halus dan tertata rapi. Tak perlu berbicara jam terbang menulis disini, karena tulisan mba Emi sudah berkata dengan sendirinya, bahwa ia, sang penulis, bisa menulis, dengan gaya bertuturnya sendiri, tanpa butuh jam terbang tinggi sebagai seorang penulis.


Dalam dunia jurnalistik, tulisan mba Emi bisa dimasukkan dalam kategori Feature. Contoh Feature yang paling nyata dalam dunia jurnalistik televisi adalah program “Jejak Petualang”. Pihak stasiun televisi tersebut mungkin menang di video-video yang menyajikan pemandangan alam yang dijelajahi oleh host, tapi mba Emi bisa menang di penyusunan kata-kata. Bahkan tanpa foto pun, pembaca buku ini akan bisa membayangkan seperti apa kehidupan yang dijalani mba Emi di luar negeri.

Minggu, 24 Oktober 2010

Tentang "yang Tersisa Dari Setahun Itu" - Emiralda

 Review ditulis oleh Adyta Purbaya

Mbak emiralda itu temen pertama di #99 writers yang saya kenal..

berawal dari notes nya tentang 99 writers ini 9 days di fesbuk yang di share link nya di twitter oleh Mbak Ollie. Saya yang jauh dari Palembang merasa khawatir akan sendirian dan nggak ada temen ngobrol ketika acara launching, memberanikan diri mengirim mesej ke fesbuk Mbak emi untuk bilang “Nanti pas disana kita bareng ya?” HAHA..

Mbak emi membalas mesej fesbuk itu dengan kalimat yang sangat bersahabat. Dan memang saat acara launching, saya bertemu dengannya. Sosok –yang menurut pandangan pertama saya- periang, bawel, dan supel. Mbak Emi dengan senyum lebar nya membuat saya merasa tidak sendiri ada disana :D

Beberapa waktu yang lalu, mbak emi sempat dua kali mengirimkan draft buku nya ke email saya, tapi selalu yang nyampe hanya email kosong. Finally, kemarin sore, akhirnya draft buku itu sampe dengan selamat dan utuh ke inbox saya :D (Rasanya pingin baca saat itu juga, tapi mesti jemput adek sekolah)

Yang tersisa dari setahun itu----

Ketika membaca tulisan di awal, ternyata saya dan Mbak emi memiliki beberapa kesamaan, hihi

perrtama : sama-sama suka baca segala hal apa saja kecuali komik. Karena (kalau saya pribadi) nggak mengerti gimana cara membaca komik itu. Makanya saya suka heran sama orang-orang yang bisa dengan asyik nya menikmati membaca komik, sementara saya harus setengah mati dan masih tetap tidak bisa memahami bagaimana alur cerita dari buku bernama komik :D

kedua :

Kutipan ini adalah hal yang sama seperti yang saya rasakan :
“Ibu saya sampai sempat melarang saya untuk membeli buku, dengan alasan sudah tidak cukup lagi tempat untuk buku-buku saya. Adik saya misuh-misuh karena banyak buku bertebaran di kamar. Saya gak berani masuk ke toko buku kalau sedang harus berhemat – cause I know I'll fail, saya hampir tidak mungkin keluar dengan tangan kosong.”